Senin, 27 Oktober 2014

Makalah Haloalkana

Sekedar berbagi~

BAB I
PENDAHULUAN

1.1        Latar Belakang
            Senyawa hidrokarbon dalam kehidupan sehari-hari sering kita temui, tetapi kita kurang memperhatikan secara detail bahkan mungkin bagi orang awam, mereka sama sekali tidak mengetahui apa itu senyawa hidrokarbon. Pengertian senyawa hidrokarbon itu sendiri adalah senyawa yang penyusun utamanya adalah atom karbon (C) dan atom hydrogen (H). Sebenarnya senyawa hidrokarbon berada di kehidupan kita sehari-hari bahkan sangat dekat sekali, setiap waktu bahkan setiap saat kita sering menggunakannya, diantaranya adalah bahan bakar. Bahan bakar terutama bensin pasti setiap hari kita gunakan sebagai bahan bakar kendaraan kita apalagi kita sebagai pelajar. Selain bahan bakar, pakaian yang setiap saat kita pakai juga terbuat dari bahan yang termasuk kedalam jenis senyawa hidrokarbon. Jenis-jenis senyawa hidrokarbon sangat banyak. Dalam makalah ini kita tidak membahas semua jenis-jenis senyawa hidrokarbon secara detail satu- persatu karena keterbatasan waktu dan wawasan kami sebagai pelajar yang masih butuh banyak belajar.
            Dalam makalah ini kami akan memberikan penjelasan mengenai Halo Alkana. Kata halo alkana mungkin jarang terdengar di telinga kita. Di dalam makalah inilah kami akan membahas mengenai halo alkana agar kita seabagai siswa dan siswi SMK kimia Analisis dapat mengetahui tidak hanya pengertian alkana secara umum tapi juga mengetahui apa itu halo alkana secara khusus.Pengertian halo alkana itu sendiri adalah senyawa turunan alkana yang mengikat satu atau lebih atom unsur halogen. Didalam makalah ini kita akan mempelajari pengertian, tata nama dari halo alkana, isomer, sifat-sifat fisik, sifat-sifat kimia, dan kegunaan halo alkana dalam kehidupan sehari-hari.

1.2        Identifikasi masalah
1.   Apa yang dimaksud dengan senyawa hidrokarbon?
2.   Apakah yang dimaksud dengan halo alkana ?
3.   Bagaimana bentuk penerapan macam-macam jenis senyawa hidrokarbon dalam kehidupan sehari-hari?

1.3        Pembatasan Masalah
            Karena keterbatasan waktu, kesempatan, wawasan, fisik, dan materi, masalah yang akan kami bahas kami batasi hanya pada “ Apakah yang dimaksud dengan halo alkana”.

1.4    Rumusan Masalah
Apakah yang dimaksud dengan halo alkana ?
1.5        Tujuan dan Manfaat
v   Tujuan
                        Tujuan  dari pembuatan makalah ini adalah membahas mengenai halo alkana baik itu mengenai pengertian, tata nama halo alkana, isomer halo alkana, sifat-sifat fisik, sifat-sifat kimia, maupun kegunaan halo alkana bagi kehidupan mahluk hidup.
v   Manfaat
                        Semoga makalah ini dapat menjadi referensi dan media pembelajaran yang tepat bagi masyarakat pada umumnya dan pelajar pada khususnya. Makalah ini juga dapat memberikan sumbangsih positif bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan kehidupan manusia.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1    Pengertian Haloalkana
Haloalkana merupakan senyawa karbon di mana atom karbon berikatan dengan halogen. Terbentuk dari substitusi atom hidrogen pada alkana oleh halogen.  Haloalkana memiliki rumus umum: CnH2n+1X
X adalah atom halogen (F, Cl, Br, I). Dengan kata lain, haloalkana adalah senyawa karbon turunan alkana yang atom H-nya diganti oleh atom halogen.
2.2    Tata Nama Haloalkana
           Tatanama senyawa haloalkana diawali dengan kata fluoro, kloro, bromo, atau iodo dan diikuti nama alkana yang mengikatnya.
Menurut IUPAC, tata nama pada halo alkana sama dengan tata nama pada alkana.Penamaannya adalah sebagai berikut.
*     Rantai utama dipilih berdasarkan rantai terpanjang yang mengandung atom halogen
Contoh :
      CH3 – CH2 – CH – CH2 - CH2 – CH – CH3
             ǀ              ǀ                                   
        `                       C3H7                           Br.
*     Pemberian nomor pada rantai utama
1.      Atom C yang mengikat halogen diberi nomor serendah mungkin.
2.      Pemberian nomor paling kecil pada halogen yang paling reaktif (untuk halogen lebih dari satu).
3.      Halogen yang sama dan lebih dari satu, nama halogennya diberi awalan di(2), tri(3), dan tetra (4) dan seterusnya.

Penulisan nama halogen dan alkil diurutkan sesuai urutan abjadnya.
Contoh :
                     Cl
                       ǀ
CH2 – CH2 – C – CH – CH2
            ǀ           ǀ          ǀ     ǀ
            Br        Br      Cl      F
3,5-dibromo-2,3-dikloro-1-fluoro pentane
2.3    Isomer Haloalkana
            Isomer adalah dua senyawa yang memiliki rumus molekul yang sama tetapi rumus strukturnya berbeda.
Penggolongan Isomer :
1. Isomer Struktur
2. Isomer Geometri
3. Isomer Fungsional
~ Isomer Struktur adalah senyawa yang memiliki rumus molekul yang sama tetapi mempunyai          penataan atau posisi atom dalam struktur yang berbeda.
contoh :
isomer struktur
~  Isomer Geometri adalah senyawa yang memiliki rumus molekul yang sama tetapi memiliki penataan atom dalam ruang yang berbeda.
contoh :
http://industri17imafa.blog.mercubuana.ac.id/files/2010/10/Picture1.jpg-300x123.png
~ Isomer Cis Adalah isomer yang mudah melepaskan air menjadi anhidrida maleat. Sebab dalam isomer cis kedua gugus karboksi dekat satu sama lain, dengan pemanasan sampai 300 °C, asam fuarat berubah menjadi anhidrida maleat.
   Contohnya :
isomer cis
Isomer geometri asam maleat (bentuk cis) mempunyai dua gugus karboksil yang dekat, dan mudah melepas air menjadi anhidrida (anhidrida maleat).
~ Isomer Fungsional adalah senyawa yang memiliki rumus molekul yang sama tetapi memiliki gugus fungsional berbeda.
Berdasarkan fakta, haloalkana memiliki isomer posisi dan isomer struktural. Perhatikan struktur haloalkana berikut.
struktur haloalkana
Struktur haloalkana
            Kedua senyawa itu memiliki rumus molekul sama, yakni C3H7Cl, tetapi posisi atom klorin berbeda. Pada 1–kloropropana terikat pada atom karbon nomor 1, sedangkan pada 2–kloropropana terikat pada atom karbon nomor 2. Kedua senyawa ini dikatakan berisomer satu sama lain, yaitu isomer posisi. Isomer struktur menyatakan perbedaan struktur dari senyawa haloalkana yang memiliki rumus molekul sama. Perhatikan struktur molekul berikut dengan rumus molekul sama, yakni C4H9Cl.
Struktur halobutana
                                                Struktur halobutana
Ketiga senyawa itu tergolong halobutana, tetapi berbeda strukturnya. Oleh karena itu, ketiga senyawa tersebut berisomer struktur (senyawa dengan rumus molekul sama, tetapi berbeda struktur molekulnya). Disamping itu, 1–klorobutana dan 2–klorobutana berisomer posisi
2.4    Sifat-sifat Haloalkana
2.4.1    Sifat Fisika
1.      Memiliki titik didih lebih tinggi daripada alkana asalnya. Makin panjang rantai karbon makin tinggi titik didihnya.
                                 Titik Didih Senyawa Haloalkana
Senyawa
Titik Didih (°C)
1–kloropropana
46
2–kloropropana
34,8
1–klorobutana
77
2–klorobutana
68
1–kloro–2–metil propana
69
2–kloro–2–metil propana
51
2.      Pada suhu kamar haloalkana rantai pendek berwujud gas, sedang haloalkana rantai panjang berwujud cair sampai padat.
3.      Sukar larut dalam air.
2.4.2        Sifat Kimia
1.       Dapat disubstitusi dengan suatu basa kuat.
2.       Dapat mengalami reaksi eliminasi membetuk alkena.
3.       Jika direaksikan dengan logam Na menghasilkan alkana dengan perpanjangan  rantai atom karbon dua kali semula (Sintesis Wurtz).
2.5    Kegunaan Senyawa Haloalkana
A.  Kegunaan Kloroform (CHCl3)
                  Kloroform merupakan senyawa karbon berwujud cair yang mudah menguap pada suhu kamar dan berbau khas. Kloroform tidak larut dalam air, tetapi larut dalam alkohol atau eter. Kloroform biasa digunakan untuk obat bius (anestetika) dan sebagai pelarut untuk lemak, lilin, dan minyak. Namun demikian, efek samping dari kloroform dapat merusak hati sehingga jarang dipakai sebagai obat bius, kecuali untuk penelitian di laboratorium. Haloalkana yang sering dipakai sebagai obat bius adalah 2–bromo–2–kloro–1,1,1–trifluoroetana.
B.  Kegunaan Iodoform (CHI3) dan Tetraklorokarbon (CCl4)
                  Iodoform berwujud padat pada suhu kamar, berwarna kuning, dan mempunyai bau yang khas. Iodoform sering digunakan sebagai antiseptik. Karbon tetraklorida merupakan zat cair yang tidak berwarna dengan massa jenis lebih besar dari air. Uap CCl4 tidak terbakar sehingga sering digunakan sebagai pemadam kebakaran. Selain itu, juga digunakan sebagai pelarut untuk lemak dan minyak.
C.  Kegunaan Kloroetana (C2H5Cl) dan Fluorokarbon (CF2Cl2)
                  Kloroetana banyak digunakan untuk pembuatan tetraetil timbal yang ditambahkan ke dalam bensin untuk memperbaiki bilangan oktan.
                  4CH3CH2Cl + 4Na + 4Pb → (CH3CH2)4Pb + 4NaCl + 3Pb
Fluorokarbon merupakan senyawa karbon yang mudah menguap, tidak beracun, tidak mudah terbakar, dan tidak berbau, terutama senyawa freon–12 (CF2Cl2). Freon–12 digunakan secara luas sebagai pendingin dan sebagai gas propelan dalam aerosol. Jenis fluorokarbon yang paling banyak dipakai adalah CCl3F dan CF2Cl2.
D.  CH3Cl (klorometana) yaitu sebagai bahan pendingin, pembuatan silikon, dan zat warna
E.  CH3Br (bromometana) yaitu sebagai bahan pemadam kebakaran di pesawat
F.   CFC ( Freon) yaitu sebagai zat pendingin. Akibat : menipisnya lapisan ozon.
G.  C2H3Cl (vinil klorida) sebagai monomer pembuatan PVC (plastik)
H. Tertaklorometana (CCl4) : wujud cair, merupakan pelarut lemak/minyak sehingga banyak    pada pencucian kering “dry cleaning”, selain itu digunakan sebagai bahan pemadam kebakaran.
I.    Freon (CCl2F2) : gas tidak berbau, tidak dapat terbakar dan tidak beracun. Biasanya dipakai sebagai pendingin (refrigerant) pada lemari es dan AC dan pengisi obat semprot (spray). Freon dapat mengikat ozon mengakibatkan lapisan ozon semakin menipis.
J. TEL, sebagai senyawa antiknocking dan meningkatkan angka oktan bensin. Namun penggunaannya di negara maju sudah dilarang karena dapat mengakibatkan lapisan timbal tipis yang berbahaya bagi kesehatan.

BAB II
PENUTUP
3.1    Kesimpulan
Haloalkana merupakan senyawa karbon di mana atom karbon berikatan dengan halogen. Terbentuk dari substitusi atom hidrogen pada alkana oleh halogen.  Haloalkana memiliki rumus umum: CnH2n+1X. Dan tanpa kita sadari ternyata berbagai jenis-jenis senyawa haloalkana sering dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Di bawah ini adalah beberapa kegunaan senyawa haloalkana dalam kehidupan sehari-hari :
a. CH3Cl (klorometana) yaitu sebagai bahan pendingin, pembuatan silikon, dan zat warna
b. CH3Br (bromometana) yaitu sebagai bahan pemadam kebakaran di pesawat
c. CFC ( Freon) yaitu sebagai zat pendingin. Akibat : menipisnya lapisan ozon.
d. C2H3Cl (vinil klorida) sebagai monomer pembuatan PVC (plastik)
e. Tertaklorometana (CCl4) digunakan sebagai bahan pemadam kebakaran.
f. Freon (CCl2F2) Biasanya dipakai sebagai pendingin (refrigerant) pada lemari es dan AC dan         pengisi obat semprot (spray).
3.2    Saran
Dari makalah yang telah kami susun, ada berbagai macam kegunaan senyawa haloalkana dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan makalah diatas penggunaan senyawa haloalkana dalam kehidupan sehari-hari selain membawa dampak positif bagi lingkungan juga ada beberapa penggunaan senyawa haloalkana yang memberikan dampak buruk bagi lingkungan. Oleh karena itu kami menyarankan untuk seluruh masyarakat untuk mengurangi penggunaan senyawa-senyawa haloalkana yang dapat memberikan dampak buruk bagi lingkungan dengan cara menggantinya dengan energy alternative atau meninggalkan bahan-bahan yang dapat merugikan lingkungan tersebut, seperti CFC, TEL, dan kloroform yangdapat merugikan manusia.

Daftar pustaka

Minggu, 26 Oktober 2014

Makalah Lemak kasar

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Analisis proksimat adalah suatu metoda analisis kimia untuk mengidentifikasi kandungan nutrisi seperti protein, karbohidrat, lemak dan serat pada suatu zat makanan dari bahan pakan atau pangan. Analisis proksimat memiliki manfaat sebagai penilaian kualitas pakan atau bahan pangan terutama pada standar zat makanan yang seharusnya terkandung di dalamnya.
Lemak dan minyak merupakan salah satu kelompok yang termasuk golongan lipida. Salah satu sifat yang khas dan mencirikan golongan lipida adalah daya larutnya dalam pelarut organik (seperti ether, benzene, khloroform) atau sebaliknya ketidaklarutannya dalam pelarut air. Secara amum lemak diartikan sebagai trigliserida yang dalam kondisi suhu ruang berada dalam keadaan padat. Lemak terdapat pada hampir semua bahan pangan dengan kandungan yang berbeda-beda. Kandungan lemak dalam pangan adalah lemak kasar dan merupakan kandungan total lipida dalam jumlah sebenarnya. Minyak dan lemak mempunyai titik didih yang tinggi yaitu sekitar 200ºC.
Kandungan lemak suatu bahan pakan dapat ditentukan dengan metode soxhlet, yaitu proses ekstraksi suatu bahan dalam tabung soxhlet. Kandungan yang ada pada lemak kasar merupakan bukanlah lemak murni melainkan campuran dari beberapa zat yang terdiri dari klorofil, xantofil dan karoten. Penetapan kandungan lemak dilakukan dengan larutan heksan sebagai pelarut. Fungsi dari n heksan adalah untuk mengekstraksi lemak atau untuk melarutkan lemak, sehingga merubah warna dari kuning menjadi jernih.



B. Rumusan Masalah
1. Apakah prinsip pengujian kadar lemak kasar ?
2. Bagaimana cara menguji kadar lemak pada suatu bahan ?
3. Mengapa kadar lemak harus diuji pada suatu bahan ?
C. Metode Penulisan
Metode penulisan makalah ini didasarkan pada gabungan dari beberapa literatur dan pencarian data melalui media internet.
 D. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini agar pembaca lebih mengetahui dan memahami tentang pengujian lemak kasar dan cara pengujian lemak kasar pada suatu bahan.
















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.      Lemak Kasar
Lemak dan minyak merupakan salh satu kelompok yang ternasuk golongan lipida. Sifat yang khas dan mencirikan golongan lipida adalah daya larutnya dalam pelarut organic (ether,benzene,kloroform)atau sebaliknya ketidaklarutannya dalam pelarut air.
Karena struktur molekulnya yang kaya akan rantai unsur karbon
(-CH2-CH2-CH2-)maka lemak mempunyai sifat hydrophob. Ini menjadi alasan yang menjelaskan sulitnya lemak untuk larut di dalam air. Lemak dapat larut hanya di larutan yang organik seperti: eter, Chloroform, atau benzol
Analisa lemak dan minyak lebih mudah dianalisa karena molekul lemak dan lemak relative lebih kecil dan kurang kompleks dibandingkan dengan molekul karbohidrat dan protein.
Analisa lemak dan minyak umum yang dilakukan pada bahan makanan digolongkan dalam 3 kelompok tujuan :
1.    Penentuan kadar lemak atau minyak yang terdapat pada bahan makanan atau pertanian.
2.    Penentuan kualitas minyak murni sebagai bahan makanan yang berkaitan dengan proses ekstraksinya atau ada tidaknya pemurnian lanjutan seperti penjernihan (refining), penghilangan bau (deodorizing), penghilangan warna (bleaching) dan lain-lain.
3.    Penentuan sifat fisis atau kimia khas yang mencirikan sifat minyak tertentu.
Berikut ini contoh beberapa jenis bahan pelarut yang sesuai untuk ekstraksi lemak yaitu :
a.    Senyawa trigliserida yang bersifat nonpolar akan mudah diekstraksi dengan pelarut nonpolar misalnya heksan atau petroleum eter.
b.    Glikolipida yang polar akan mudah diekstraksi dengan alcohol yang polar.
c.    Lesitin akan mudah larut dalam pelarut yang sedikit asam misalnya alcohol.
d.   Fospolipida yang bersifat polar dan asam akan mudah larut dalam kloroform yang sedikit polar dan basa. Senyawa ini tidak larut dalam alcohol.
Petoleum ether atau heksan adalah  bahan pelarut lemak nonpolar yang paling banyak digunakan karena harganya relative murah, kurang berbahaya terhadap kebakaran dan ledakan serta lebih selektif untuk lemak nonpolar.
Lemak kasar adalah campuran beberapa senyawa yang tidak larut dalam air tetapi larut dalam pelarut lemak (ether, petroleum benzene, karbon tetra khorida dsb). Lemak mengandung unsure C, H dan O. Dalam perbandingan lemak lebih banyak mengandung C dan H daripada O. Lemak memberikan 2.25 kali energy lebih banyak disbanding dengan karbohidrat jika mengalami metabolism karena lemak mengandung unsure H lebih banyak daripada unsure O.

B.       Fungsi Lemak
Di dalam tubuh kita lemak berfungsi penting antara lain:
1)   Sebagai pelindung tubuh dari pengaruh suhu rendah
2)   Sebagai pelarut vitamin A, D, E, dan K
3)   Sebagai pelindung alat-alat tubuh yang vital ( antra lain jantung dan lambung), yaitu sebagai bantalan lemak
4)   Sebagai penghasil energi tertinggi
5)   Sebagai salah satu bahan penyusun membran sel
6)   Sebagi salah satu bahan penyusun hormon dan vitamin (khusus untuk sterol)
7)    Sebagi salah satu bahan penyusun garam empedu, asam kholat dan hormon seks

C.      Penentuan Kadar Lemak Kasar
Ada 2  cara penentuan kadar lemak berdasarkan jenis bahan yang akan ditentukan :
1.      Bahan Kering
Untuk penentuan lemak dari bahan kering, bahan dibungkus atau ditempatkan dalam thimble lalu dikeringkan dalam oven untuk menghilangkan airnya. Pemanasan dilakukan secepatnya dan dihindari suhu yang terlalu tinggi. Ekstraksi lemak dari bahan kering dapat dilakukan secara terputus-putus atau berkesinambungan. Ekstraksi secara terputus dilakukan dengan soklet atau alat ekstraksi ASTM (American society testing material ). Sedangkan secara berkesinambungan dengan alat goldfisch atau ASTM yang telah dimodifikasi.
2.      Bahan Cair
Penentuan lemak dari bahan cair dapat menggunakan botol Babcock atau dengan Mojonnier.

D.      Metode Pengujian Kadar Lemak Kasar
Ada beberapa metode yang digunakan untuk pengujian kadar lemak kasar, yaitu :
1.      Metode Ekstraksi Langsung
2.      Metode Weibull

E.       Pengujian Kadar Lemak Kasar
a)         Pengujian kadar lemak kasar metode ekstraksi langsung berdasarkan AOAC, BAB 4 Butir 4.5.06 Metode 2003.03
1.    Prinsip pengujian kadar lemak
Lemak bebas diekstraksi dengan pelarut non polar selama beberapa waktu (3-8jam). Metode soxhlet yaitu lemak yang terekstrasi dalam pelarut akan terakumulasi dalam wadah pelarut (labu Soxhlet), kemudian dipisahkan dari pelarutnya dengan cara dipanaskan dengan oven 105oC. Pelarut akan menguap sedangkan lemak tidak karena titik didih lemak lebih tinggi dari 105 oC, sehingga menguap dan tinggal dalam wadah. Lemak hasil ekstraksi kemudian ditimbang beratnya lalu dihitung sehingga diperoleh kadar lemak dalam sampel.

2.      Alat dan Bahan
·      Alat :
1)        Kertas saring
2)        Selongsong kertas
3)        Alat soxlet(soxtec sistem)
4)        Desikator
5)        Oven
6)        Neraca analitik
7)        Kapas bebas lemak
8)        Cup
9)        Penjepit cup
10)    Pinset
11)    Sendok sampel
·      Bahan :
1)        Diethyl eter atau pelarut lainnya
2)        Sampel

3.    Cara Kerja
1.      Timbang dengan seksama 1-2 gram sampel dengan kertas saring, masukkan ke dalam selongsong yang sebelumnya sudah dialasi kapas dan ditutup kembali bagian atas dengan kapas
2.      Masukkan pelarut diethyl eter kedalam cup
3.      Lakukan ekstrasian ke dalam alat soxtec sistem pada suhu 85oC dan 70oC selama 1 jam (bolling 15menit, ringsing 30menit, ovaporation 15menit)
4.      Keringkan cup yang berisi lemak kedalam oven pada suhu 105oC selama 1 jam
5.      Setelah itu masukkan ke dalam desikator selama 15 menit kemudian timbang dan catat hasilnya dan lakukan sekali lagi untuk mencari berat konstannya.
a.    Perhitungan
% Kadar  Lemak = W2 – W1 x 100%
                                         W

                             Keterangan :    W = bobot sampel (gram)
                                                     W1 = bobot cup kosongan (gram)
                                                     W2 = bobot cup lemak (gram)

b)    Pengujian kadar lemak kasar dengan Metode Weibull
1.      Prinsip
Ekstraksi lemak dengan pelarut non polar setelah contoh dihidrolisis dalam suasana asam untuk membebaskan lemak yang terikat.

2.      Alat dan bahan
·      Alat :
1)        Kertas saring
2)        Labu lemak
3)        Alat soxlet
4)        Pemanas listrik
5)        Oven
6)        Neraca analitik
7)        Kapas bebas lemak
8)        Gelas piala

·         Bahan :
1)        n-heksana
2)        HCl 25%
3.  Cara Kerja :
1.        Timbang dengan seksama 1-2 gram contoh kedalam gelass piala.
2.        Tambahkan 30 mL HCl 25%dan 20 mL air serta beberapa batu didih.
3.        Tutup gelas piala dengan kaca arloji dan didihkan selama 15 menit.
4.        Saring dalam keadaan panas dan cuci dengan air panas hingga tidak bereaksi asam lagi,cek dengan lakmus,bila asam kertas saring berwarna hitam, maka terus tambah air panas.
5.         Keringkan kertas saring beserta isinya  pada suhu 100-105°C.
6.        Masukkan kedalam selongsong kertas yang dialasi kapas.
7.        Masukkan kedalam alat soxlet yang dihubungkan dengan labu lemak yang telah dikeringkan dan diketahui bobotnya.
8.         Ekstrak dengan heksana atau pelarut lemak dalam oven pengering pada suhu 105°C
9.         Dinginkan dalam eksikator dan timbang
10.    Ulangi hingga tercapai konstan

4.   Perhitungan :
% Kadar lemak   =  Wi – Wo  x 100%
Ws
Keterangan :      Ws =  Bobot contoh (gram)
Wi =  Bobot labu + lemak setelah ekstraksi (gram)
Wo =  Bobot labu lemak sebelum ekstraksi (gram)






BAB III
PENUTUP

A.      Kesimpulan
Ø  Lemak kasar adalah campuran beberapa senyawa yang tidak larut dalam air tetapi larut dalam pelarut lemak (ether, petroleum benzene, karbon tetra khorida dsb). Lemak mengandung unsure C, H dan O. Dalam perbandingan lemak lebih banyak mengandung C dan H daripada O. Lemak memberikan 2.25 kali energy lebih banyak disebanding dengan karbohidrat jika mengalami metabolism karena lemak mengandung unsur H lebih banyak daripada unsur O.
Ø  Lemak bebas diekstraksi dengan pelarut non polar, melalui metode ekstraksi langsung dengan alat soxhlet (soxhletasi)
Ø  Ada beberapa metode yang digunakan untuk pengujian kadar lemak kasar, yaitu :
·         Metode Ekstraksi Langsung
·         Metode Weibull

B.       Saran
Demikianlah makalah ini kami buat, kami menyadari masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun dari para pembaca sangat kami harapkan. Dan semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.







DAFTAR PUSTAKA

http://bagusbadong.blogspot.com/2012/04/amalisa-proksimat.html
Buku Petunjuk Teknis Pengujian Mutu Pakan 2010
http://dessdonndinn.wordpress.com/2012/05/20/analisis-proksimat.html



TUGAS SMK (Kimia Analisis) :D